Rabu, 30 April 2014



HASIL REVIEW
BUDAYA KEKERASAN DALAM PERSPEKTIF NILAI-NILAI DAN ETIKA MASYARAKAT
Nugroho Trisnu Brata
            Secara simbolik, perilaku dan budi bahasa masyarakat jawa terlihat lemah lembut dan penuh dengan tata krama, seperti halnya lemah gemulainya “Putri Solo”. Namun, pada zaman dahulu, masyarakat jawa termasuk etnis yang keras dan terlihat menjadi bangsa yang penakluk bagi bala tentara Belanda yang mencoba untuk mengambil alih kekuasaan pada zama kerajaan Majapahit. Bukan hanya itu, pada masa kekuasaan  kerajaan Mataram telah hadir kekuatan kapitalisme asing VOC dalam lingkaran kekuasaan tersebut dan membelah mataram menjadi dua .
Hadirnya simbol-simbol bermakna dalam pisowangan ageng dapat dikaitkan dengan konteks alus dan kasar. Dalam pandangan James T.Siegel kategori alus dan kasar adalah salah satu kategori hierarkhi dalam masyarakat Jawa yang bisa terwujud dalam bahasa dan perilaku. Watak alus adalah kondisi ideal manusia Jawa yang untuk mencapainya perlu laku, perlu tata brata, perlu usaha yang sungguh-sungguh dan serius. Secara hierarkhi, watak halus derajatnya lebih tinggi daripada kasar. Watak halus identik dengan para satria, bangsawan, dan priyayi. Sedangkan watak kasar identik dengan wong cilik, anak muda, dan wong sabrang (orang asing).
Dari berbagai peperangan dan segala macam pembuktian pada zaman dahulu, masyarakat jawa pada masa lalu bersifat kasar, namun itu hanya sebagai simbol masa lalu saja karena masyarakat tersebut bersifat keras dan kasar untuk melawan penjajah di daerah jawa itu sendiri. Masyarakat jawa tersebut jika tidak memiliki sifat keras pada masa itu mereka tidak akan merdeka jika hanya diam dan bersifat lemah lembut. Namun sampai sekarang, sifat halus yang ada pada diri masyarakat jawa hingga saat ini masih terpatri dan sampai sekarangpun masyarakat jawa masih dikenal oleh orang lain dengan sifat yang halus dan etika yang santun, meski tidak semua masyarakat jawa saat ini bersifat seperti itu.