HASIL REVIEW
BUDAYA KEKERASAN
DALAM PERSPEKTIF NILAI-NILAI DAN ETIKA MASYARAKAT
Nugroho Trisnu Brata
Secara simbolik, perilaku dan budi
bahasa masyarakat jawa terlihat lemah lembut dan penuh dengan tata krama, seperti
halnya lemah gemulainya “Putri Solo”. Namun, pada zaman dahulu, masyarakat jawa
termasuk etnis yang keras dan terlihat menjadi bangsa yang penakluk bagi bala
tentara Belanda yang mencoba untuk mengambil alih kekuasaan pada zama kerajaan
Majapahit. Bukan hanya itu, pada masa kekuasaan
kerajaan Mataram telah hadir kekuatan kapitalisme asing VOC dalam
lingkaran kekuasaan tersebut dan membelah mataram menjadi dua .
Hadirnya simbol-simbol bermakna dalam pisowangan ageng dapat dikaitkan
dengan konteks alus dan kasar. Dalam pandangan James T.Siegel kategori alus dan
kasar adalah salah satu kategori hierarkhi dalam masyarakat Jawa yang bisa
terwujud dalam bahasa dan perilaku. Watak alus adalah kondisi ideal manusia
Jawa yang untuk mencapainya perlu laku, perlu tata brata, perlu usaha yang
sungguh-sungguh dan serius. Secara hierarkhi, watak halus derajatnya lebih
tinggi daripada kasar. Watak halus identik dengan para satria, bangsawan, dan
priyayi. Sedangkan watak kasar identik dengan wong cilik, anak muda, dan wong
sabrang (orang asing).
Dari berbagai peperangan dan segala macam pembuktian pada zaman dahulu,
masyarakat jawa pada masa lalu bersifat kasar, namun itu hanya sebagai simbol
masa lalu saja karena masyarakat tersebut bersifat keras dan kasar untuk
melawan penjajah di daerah jawa itu sendiri. Masyarakat jawa tersebut jika
tidak memiliki sifat keras pada masa itu mereka tidak akan merdeka jika hanya
diam dan bersifat lemah lembut. Namun sampai sekarang, sifat halus yang ada
pada diri masyarakat jawa hingga saat ini masih terpatri dan sampai sekarangpun
masyarakat jawa masih dikenal oleh orang lain dengan sifat yang halus dan etika
yang santun, meski tidak semua masyarakat jawa saat ini bersifat seperti itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar